Sejarah Konflik dan Runtuhnya Yugoslavia (Kel. 5) XII IPS 3
Sejarah konflik dan runtuhnya Yugoslavia adalah proses yang kompleks dan melibatkan berbagai faktor, termasuk perbedaan etnis, agama, ekonomi, dan politik, yang memuncak pada perang saudara dan disintegrasi negara pada tahun 1990-an. Yugoslavia, yang awalnya dibentuk sebagai Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia pada tahun 1918, menjadi Republik Federal Sosialis Yugoslavia setelah Perang Dunia II, terdiri dari enam republik: Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Makedonia, serta dua provinsi otonom di Serbia, yaitu Kosovo dan Vojvodina.
Berikut adalah tahapan utama dalam sejarah konflik dan runtuhnya Yugoslavia:
1. Pembentukan Yugoslavia dan Era Tito
Setelah Perang Dunia II, di bawah kepemimpinan Josip Broz Tito, Yugoslavia menjadi negara komunis non-blok yang relatif stabil. Tito mampu menjaga persatuan di antara berbagai kelompok etnis dengan menerapkan kebijakan federalisme yang memberikan otonomi relatif kepada republik-republik anggotanya. Meskipun demikian, ketegangan etnis dan nasionalisme masih ada, terutama antara Serbia, Kroasia, dan Bosnia.
Tito berhasil menjaga keseimbangan kekuatan etnis melalui pendekatan otoriter dan kebijakan sentralisasi kekuasaan di bawah kendalinya. Namun, ketika Tito meninggal pada tahun 1980, stabilitas Yugoslavia mulai terancam karena tidak ada pemimpin yang bisa menggantikan otoritasnya, dan ketegangan etnis mulai meningkat.
Josip Broz Tito |
2. Krisis Ekonomi dan Kebangkitan Nasionalisme (1980-an)
Pada 1980-an, Yugoslavia mengalami krisis ekonomi yang parah, dengan inflasi tinggi, utang luar negeri yang besar, dan pengangguran. Kondisi ini memperburuk ketidakpuasan di antara republik-republik yang berbeda. Pada saat yang sama, nasionalisme kembali bangkit di berbagai wilayah. Serbia, di bawah kepemimpinan Slobodan Milošević, mulai memperkuat kekuasaannya dan mempromosikan agenda nasionalisme Serbia.
Di Kroasia dan Slovenia, gerakan kemerdekaan juga menguat, sementara di Bosnia, ketegangan antar kelompok etnis (Bosniak Muslim, Kroasia Katolik, dan Serbia Ortodoks) semakin dalam. Hal ini memunculkan ketidakpuasan terhadap dominasi Serbia di pemerintahan pusat Yugoslavia.
3. Perpecahan dan Deklarasi Kemerdekaan (1991-1992)
Pada awal 1990-an, setelah runtuhnya Uni Soviet dan gelombang demokratisasi di Eropa Timur, republik-republik Yugoslavia mulai menuntut kemerdekaan. Pada 1991, Slovenia dan Kroasia mendeklarasikan kemerdekaan mereka dari Yugoslavia. Deklarasi ini memicu perang singkat di Slovenia, yang berhasil mempertahankan kemerdekaannya dengan cepat.
Namun, perang di Kroasia jauh lebih berdarah, karena minoritas etnis Serbia di Kroasia, yang didukung oleh Milošević, menolak kemerdekaan Kroasia dan berupaya membentuk negara terpisah. Perang Kroasia berlangsung dari 1991 hingga 1995, dengan banyak korban jiwa dan kehancuran besar-besaran.
4. Perang Bosnia (1992-1995)
Pada tahun 1992, Bosnia dan Herzegovina, yang dihuni oleh Bosniak Muslim, Kroat Bosnia, dan Serbia Bosnia, mendeklarasikan kemerdekaannya. Namun, Serbia Bosnia, yang dipimpin oleh Radovan Karadžić dan didukung oleh Milošević, menolak kemerdekaan Bosnia dan memulai perang untuk memisahkan wilayah Bosnia yang dihuni etnis Serbia.
Perang Bosnia menjadi salah satu konflik paling brutal di Eropa sejak Perang Dunia II. Kota Sarajevo dikepung selama hampir empat tahun, dan terjadi pembersihan etnis terhadap Bosniak Muslim, termasuk pembantaian Srebrenica pada tahun 1995, di mana lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim dibunuh oleh pasukan Serbia Bosnia. Perang ini menyebabkan lebih dari 100.000 kematian dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal.
Perang Bosnia |
5. Intervensi Internasional dan Akhir Konflik
Intervensi internasional, terutama oleh NATO dan PBB, akhirnya berhasil menghentikan kekerasan di Bosnia. Pada tahun 1995, Perjanjian Dayton ditandatangani, yang mengakhiri perang Bosnia dan membentuk Bosnia dan Herzegovina sebagai negara federasi dengan dua entitas: Federasi Bosnia-Kroasia dan Republik Srpska (wilayah Serbia Bosnia).
6. Perang Kosovo dan Disintegrasi Final (1998-1999)
Pada akhir 1990-an, konflik kembali memanas di provinsi Kosovo, wilayah yang mayoritas penduduknya adalah etnis Albania tetapi berada di bawah kendali Serbia. Gerakan separatis Kosovo berkonflik dengan pasukan Serbia, yang menyebabkan intervensi NATO pada tahun 1999. Setelah serangan udara NATO terhadap Serbia, pasukan Serbia mundur dari Kosovo, dan wilayah ini berada di bawah administrasi PBB. Kosovo kemudian mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 2008, meskipun Serbia tidak mengakuinya.
Perang Kosovo |
7. Pembubaran Yugoslavia
Pada awal 2000-an, Yugoslavia yang tersisa (Serbia dan Montenegro) tetap berada dalam satu kesatuan. Namun, pada tahun 2006, Montenegro mengadakan referendum dan memilih untuk memisahkan diri. Pada akhirnya, hanya Serbia yang tersisa sebagai penerus negara Yugoslavia, yang secara resmi runtuh sebagai entitas negara pada tahun 2006.
Dampak Runtuhnya Yugoslavia
Runtuhnya Yugoslavia menghasilkan tujuh negara baru: Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Makedonia Utara, Montenegro, Serbia, dan Kosovo (meskipun kemerdekaan Kosovo tidak diakui secara universal). Konflik yang menyertai disintegrasi Yugoslavia menyebabkan kehancuran besar, korban jiwa yang tak terhitung, dan trauma mendalam bagi seluruh kawasan Balkan. Konflik ini juga meninggalkan jejak berupa ketegangan etnis yang masih terasa hingga hari ini.
Oleh:
Kelompok 5
• Atifa Kurnia
• Cinta Sharoni
• Isratul Hidayatullah
• Laurensia Irving Zai
• Muhammad Fajri
Comments
Post a Comment